Pendapatan Calon Suami Kecil? Ini Tipsnya

Hallo sobat datangya.com apa kabar?

Gak terasa ya, akhirnya kita masuk juga ke tahun 2015. Selamat tahun baru ya! Semoga tahun ini kita banyak mendapat keberkahan dan juga kesuksesan.

Sobat datangya.com … ada yang bilang, memaknai datangnya tahun baru sama artinya kita memaknai tentang makin berkurangnya kesempatan kita untuk berbuat baik. Tahu kenapa? Ya…karena kesempatan kita untuk hidup juga mulai berkurang, otomatis kesempatan untuk melakukan hal-hal yang baik juga berkurang jugakan frekuensinya? Oleh karena itu, nggak ada salahnya dong, kalau kita mulai melakukan resolusi. Tentu saja sobat datangya.com, sebuah resolusi yang mengarah pada kebaikan diri dan hidup kita ke depan, yang pastinya juga bermanfaat bagi orang lain.

Sobat datangya.comtadi pagi neh ada yang curhat ke redaksi kita. Kita sebut saja ya namanya Echa. Dia bilang kalau akhir-akhir ini dia sering merasa kesal karena terus ditanyai kapan menikah oleh orang tuanya. Pertama-tama sih, Echa mengaku tak mengambil pusing dengan pertanyaan orang tuanya tersebut. Tapi lama kelamaan Echa mengaku pusing juga, apalagi jika dikait-kaitkan dengan usianya yang (katanya) sudah tak muda lagi. Tahun ini Echa sudah menginjak usia 25 tahun. Sebagai seorang wanita, usia Echa ini sudah tergolong mapan untuk berumah tangga.

Young woman sitting on sofa man in background

Sebenarnya sih Echa sudah punya pacar. Bahkan dia sudah lima tahun menjalin hubungan dengan pacarnya itu. Hanya saja Echa belum berani untuk menerima tawaran kekasihnya untuk melanjutkan hubungan ke jenjang perkawinan. Masalahnya, karena sang pacar belum mempunyai pekerjaan yang layak (versi Echa). Pacar Echa masih berstatus sebagai karyawan outsourching, dengan gaji yang masih berada jauh di bawah gaji Echa yang sudah menjabat sebagai assisten manager di sebuah perusahaan lokal. Echa takut jika kelak menikah dengan lelaki yang penghasilannya lebih rendah, ia akan mendapatkan banyak masalah, terutama masalah yang berhubungan dengan harga diri sang pacar. Echa takut calon suaminya akan merasa rendah diri karena punya penghasilan yang lebih rendah dari dirinya. Di sisi lain Echa juga takut dimanfaatkan. Maklumlah, kata Echa, sekarang kan banyak cowok matre.

Echa merasa seperti makan buah simalakama. Sebagai seorang wanita, Echa sadar betul kalau berpacaran terlalu lama akan memberi efek yang kurang baik bagi dirinya dan juga keluarganya. “Selain itu juga, berpacaran terlalu lama juga dilarang oleh agama. Takut kena godaan setan,” kata Echa.

Hmm...sungguh sebuah masalah klasik ya! Oleh karena itu, sobat datangya.com, kami coba bantu Echa atau juga teman-teman lain, yang mungkin juga tengah mengalami hal yang sama dengan Echa ya, agar masalahnya segera terpecahkan!

Penelitianyang dilakukan oleh Pew Research Center (PCR), sebuah lembaga survey di Amerika, menyebutkan bahwa lebih dari 40 persen keluarga di Amerika memiliki pendapatan utama dari pihak istri alias pendapatan istri lebih besar dari suami. Namun begitu, ternyata cukup banyak yang bisa tetap menjalani pernikahan mereka dengan perasaan bahagia.

Ada beberapa trik ternyata yang dilakukan para responden (perempuan) PCR untuk mengatasi masalah tersebut. Penerimaan diri adalah hal yang terpenting dan utama agar sebuah hubungan tetap berjalan. Perasaan tidak terima atau kesal dengan pendapatan suami yang lebih kecil menyebabkan suami merasa tak dihargai. Ingatlah! Kuantitas gaji bukanlah yang utama. Ada banyak faktor lain yang tak kalah penting dalam rumah tangga, seperti perlindungan, kasih sayang, tanggung jawab, serta keinginan dan perjuangan untuk menjaga rumah tangga yang bahagia.

Selanjutnya adalah berbagi tugas. Ini merupakan hal yang bisa dilakukan untuk menghindari ancaman yang disebabkan karena ketimpangan pendapatan. Buatlah alokasi dana khusus untuk kamu dan si Dia (bila ternyata nantinya jadi menikah ya heheheheh).

Trus…tetap menjaga peran sebagai istri, dengan tetap menunjukkan sisi feminim di hadapan suami. Bersikap manja, dan selalu merasa butuh kehangatan dan kasih sayang. Jika si Dia sangat sensitif dengan kondisinya, sikap ini akan membantunya untuk tetap merasa dihargai dan dibutuhkan.

Dan jurus yang terakhir adalah, abaikan kata orang! Lebih rendahnya penghasilan suami dibandingkan istri seringkali membuat seorang laki-laki merasa tertekan. Apalagi kadang-kadang ada pihak luar yang membesar-besarkan hal tersebut. So…abaikanlah kata orang tersebut! Sebaliknya hiburlah si Dia dengan menyampaikan hal-hal yang membuatnya merasa bahwa anda tetap membutuhkannya.

Sobat datangya.com… memang bukanlah hal yang mudah untuk bisa menyelesaikan masalah, apalagi yang menyangkut hubungan dengan pasangan. Intinya tetaplah kita saling memberi dan menerima agar ketimpangan dalam membina hubungan bukan menjadi ancaman bagi kehidupan percintaan.

Soo…Echa dan sobat datangya.com lainnya, tetap semangat ya menjalani hubungan, agar kebahagiaan menuju cita-cita mewujudkan pernikahan yang bahagia bisa digapai. Good Luck!

comments

Tags:

Leave A Comment

*

Create Invitation